Monday, September 5, 2016
Jual Boneka Jari - dianasflanel | Tokopedia
Jual Boneka Jari - dianasflanel | Tokopedia: Jual Boneka Jari, Boneka Jari dengan harga Rp 50.000 dari toko online dianasflanel, Jakarta. Cari produk boneka lainnya di Tokopedia. Jual beli online aman dan nyaman hanya di Tokopedia.
Tuesday, December 15, 2015
Kaitan Kreatifitas Seni Rupa Dengan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelengences)
|
S
|
eni rupa adalah cabang seni yang
membentuk karya seni dengan media yang bisa dinikmati oleh indera penglihatan
yaitu mata dan dapat pula dirasakan melalui rabaan menggunakan indera peraba.
Kesan ini diciptakan dengan cara mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk,
volume, warna, tekstur dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Contoh bidang seni rupa, meliputi:
1. Seni Lukis
2. Seni Grafis
3. Seni Patung
4. Seni Instalasi
5. Seni Keramik
Fungsi dari karya seni rupa ada 2, yaitu:
1. Fungsi
estetika.
Adalah fungsi
yang ditujukan hanya untuk keindahan atau hiasan. Misalnya: Vas bunga, guci,
batik untuk hiasan dinding dan lain-lain.
2. Fungsi praktis.
Adalah karya
seni yang memiliki tujuan utama untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya: kursi,lemari, meja.
Dalam prakteknya seni
rupa pembuatan kerjinan keramik pada anak usia dini (AUD) merupakan salah satu
pembelajaran yang menyenangkan yang melibatkan beberapa aspek perkembangan,
yaitu kognitif dan motorik. Selain itu, praktek membuat karya seni menunjukan
jenis kecerdasan dominan yang dimiliki oleh anak.
Kecerdasan yang dimaksud adalah:
1. Kecerdasan
visual-spatial.
Kecerdasan visual-spasial menunjukkan kemampuan seseorang untuk
memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Peserta didik
ini memiliki kemampuan, misalnya, untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam
pikirannya atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti
dijumpai pada orang dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitek suatu
bangunan. Kemampuan membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan
berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada
jenis kecerdasan visual-spasial ini. Kecerdasan
visual-spasial berhubungan dengan objek dan ruang yang dihadapi dalam kehidupan
sehari-hari, salah satunya dalam hal membuat seni rupa berupa kerajinan keramik
dalam proses pembelajarn Anak Usia Dini(AUD).
2. Kecerdasan
Naturalis.
Kecerdasan naturalis menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka
terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam yang
terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan.
Peserta didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka
mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan
tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya.
3. Kecerdasan
Logical-Mathematics
Kecerdasan logical-matematika menunjukkan kemampuan
seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan
logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah
dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan
matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan
mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu. Dalam membuat kerajian keramik
dibutuhkan pola bentuk, komposisi, kesimetrisan bentuk yang merupakan konsep
matematika sederhana pada pendidikan anak usia dini.
4.
Kecerdasan interpersonal.
Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk
peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan
berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan
di sekelilingnya.
Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin
persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin,
mengorganisir, menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari
peserta didik yang lain, dan sebagainya. Dalam hal ini kecerdasan interpersonal
dibutuhkan anak saat ingin mempresentasikan hasil karyanya yang berupa
kerajinan keramik.
Monday, December 14, 2015
Strategi Pembelajaran Umum dan Khusus pada Pendidikan Anak Usia Dini
A. LATAR BELAKANG
Karakteristik tujuan pendidikan anak usia dini adalah
tujuan yang berkaitan dengan bidang-bidang pengembangan yaitu: pengembangan
kognitif, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik dan pengembangan
sikap dan nilai serta pengembangan kreatifitas. Untuk dapat melaksanakan
pembelajaran guna mencapai tujuan diperlukan strategi pembelajaran yang tepat
bagi anak usia dini sesuai dengan tingkat perkembangan dan segala potensi yang
dimilikinya.
Sebagai contoh untuk mengembangkan
kognitif anak diperlukan strategi yang dapat menumbuhkan kemampuan berpikir,
memecahkan masalah, menyimpulkan yang dikemas dalam kegiatan bermain.
Penggunaan strategi yang tepat akan membantu mengembangkan kognitif anak dengan
baik.
Untuk mengembangkan kreatifitas anak, strategi
yang dapat dipertimbangkan oleh guru adalah strategi yang dapat meningkatkan
rasa ingin tahu dan mengembangkan imajinasi anak, mampu mencari dan menemukan
jawaban dan menemukan hubungan-hubungan baru.
Untuk mengembangkan kemampuan yang
berkaitan dengan kemampuan berbahasa, guru dapat memilih strategi yang dapat
meningkatkan kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis permulaan dan
kemampuan komunikasi. Demikian pula untuk pengembangan bidang lainnya,
penentuan strategi sangat berpengaruh terhadap proses belajar anak dan hasil
yang akan dicapai.
B. RUMUSAN MASALAH
Pentingnya menentukan strategi
pembelajaran bagi anak usia dini, mengharuskan guru untuk mengetahui
jenis-jenis strategi apa saja yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan.
Kostelnik (1999) membedakan strategi pembelajaran menjadi dua, yaitu: strategi
pembelajaran umum dan strategi pembeljaran khusus.
Rumusan masalah pada makalah ini
adalah untuk mengetahui jenis-jenis strategi pembelajaran umum dan khusus
menurut Kostelnik (1999).
C. TUJUAN
Menentukan manfaat yang dapat
diambil dari pemilihan strategi pembelajaran umum dan khusus menurut Kostelnik
(1999).
D. LANDASAN TEORI
D.1 Pengertian
Strategi pembelajaran mengandung
pengertian pola umum perbuatan guru dan
murid yang diwujudkan ke dalam kegiatan
belajar mengajar, yang dapat pula diartikan sebagai segala usaha yang dilakukan
guru dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Penekanan arti strategi pembelajaran menggaris bawahi peran dan aktifitas guru dalam mengajar dan
aktifitas anak belajar.
Kostelnik (1999) mengemukakan
klasifikasi strategi pembelajaran menjadi strategi pembelajaran umum dan
strategi pembelajaran khusus yang dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia
dini. Dalam pelaksanaanya guru memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan secara
cermat dalam memutuskan strategi pembelajaran yang akan digunakan untuk
memudahkan anak belajar.
D.2. Alur Pembelajaran
D.2.1.
Strategi Pembelajaran Umum.
Jenis-jenis strategi pembelajaran
umum yang dapat diaplikasikan pada pendidikan anak usia dini, menurut Kostenik
(1999) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan
keterlibatan indera
Panca indera adalah gerbang
informasi yang masuk dari luar sehingga praktis pembelajaran dengan menggunakan
panca indera akan memberikan pengalaman langsung yang konkrit pada anak.
Memberikan kesempatan pada anak untuk menyentuh langsung benda-benda konkrit,
berinteraksi dengan manusia, mengamati hal-hal di sekitar anak akan sangat
membantu pemahamannya.
Pedoman yang harus diperhatikan
dalam mendorong keterlibatan indera anak (Kostelnik ,1999), yaitu:
2. Mempersiapkan
isyarat lingkungan
Isyarat lingkungan dapat diciptakan
oleh guru untuk melatih kemandirian anak dan memahami simbol-simbol yang biasa
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh:
3. Analisis
tugas
Analisis tugas dalam pembelajaran
dimaksudkan untuk menjelaskan tugas secara lebih rinci dan operasional sehingga
mudah dipahami dan dilaksanakan oleh anak.
Contohnya guru mengharapkan anak
dapat melipat baju dengan benar, maka guru harus menjabarkan tugas ini ke dalam
tugas yang lebih kecil (lebih khusus) ke dalam tahapan seperti berikut ini :
a) Merentangkan
baju di atas meja dengan posisi bagian belakang baju menghadap ke atas.
b) Merapikan
permukaan baju dengan cara meluruskannya.
c) Melipat
sisi kanan dan sisi kiri baju ke arah dalam.
d) Melipat
baju menjadi dua bagian.
4. Bantuan
orang yang lebih berpengalaman (scaffolding)
Scaffolding adalah proses pemberian
bantuan dari orang yang lebih berpengalaman yang dilakukan secara bertahap
untuk mempermudah anak dalam belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Bantuan
dapat berasal dari orang dewasa, orang yang lebih tua dan teman sebaya. Bantuan
akan diberikan jika anak sudah tidak dapat menemukan cara-cara untuk
menyelesaikan kegiatan atau tugas.
5. Praktek
terbimbing
Cara belajar melalui praktek
terbimbing merupakan implikasi dari prinsip bahwa anak-anak belajar melalui
proses pengulangan (repetisi), menurut Bredekamp dan Copple, 1997. Belajar yang
riil tidak akan terjadi alam satu kali, oleh karena itu anak perlu diberi
kesempatan untuk menggunakan konsep, mengeksplorasi gagasannya dan mencoba
keterampilan baru untuk memperoleh pemahaman.
6. Undangan/ajakan
Undangan secara verbal sangat
penting untuk memusatkan perhatian anak-anak agar mau berpartisipasi dalam
kegiatan yang akan dilakukan, contohnya: "Anak-anak, mari berkumpul dan
membuat lingkaran."
7. Refleksi
tingkah laku
Refleksi tingkah laku merupakan
umpan balik deskriptif tentang tindakan yang dilakukan anak-anak dengan tujuan
untuk menguatkan tindakan anak.
8. Refleksi
kata-kata
Refleksi kata-kata (paraphrase
reflection) adalah pernyataan yang diungkapkan guru tentang sesuatu yang
dikatakan anak-anak. Dengan demikian komentar yang tidak menilai anak yang
diucapkan oleh guru dapat meningkatkan
kemampuan anak.
9. Contoh
(modelling)
Dalam banyak hal, anak-anak belajar
dengan cara meniru apa yang dilakukan orang lain. Dalam strategi pembelajaran
modelling dapat dilakukan melalui kegiatan bermain pura-pura (pretending play),
misalnya dengan anak berpura-pura menjadi guru.
10. Penghargaan
efektif
Guru dapat memberikan penghargaan
pada anak sesuai dengan perilaku yang ditunjukkannya. Bentuknya dapat berupa
pujian terhadap tingkah laku positif anak. Agar penghargaan menjadi efektif,
maka harus bersifat spesifik dan didapat pula dibandingkan dengan kemajuan anak
dengan tingkah laku sebelumnya.
Sebagai contoh: "Bagus sekali
Nana, kamu telah berani maju ke depan dan memimpin doa sebelum makan dan
minum."
11. Menceritakan/menjelaskan/menginformasikan
Segala informasi yang dibutuhkan
anak dapat disajikan dalam bentuk cerita/penjelasan. Agar penjelasan menjadi
efektif maka harus didasarkan pada pengalaman langsung yang dimiliki oleh anak
dan terdapat dalam konteks yang bermakna bagi anak.
12. Do it signal
Do it signal berupa arahan sederhana
yang diberikan pada anak agar mau melakukan suatu tindakan, contoh :
"Silahkan mengambil kue yang kamu sukai." Atau " Dapatkah kamu
menuliskan a-i-u-e-o?" atau dapat juga dalam bentuk tantangan.
13. Tantangan
Telah disinggung di awal bahwa
tantangan adalah variasi dari strategi do it signal, yang diberikan untuk
memotivasi anak dalam memecahkan masalahnya. Namun dalam hal ini guru perlu
mempertimbangkan tingkat kesulitan dalam tantangannya.
Contohnya: "Siapa yang dapat
membuat bermacam-macam binatang dari plastisin?"
14. Pertanyaan
Pertanyaan adalah suatu alat
pengajaran pokok yang dapat digunakan pada lembaga pendididkan anak usia
dini. Efektifitas sebuah pertanyaan
dapat dilihat dari keterkaitannya dengan tujuan yang akan dicapai, dapat
merangsang berfikir anak, dapat dipahami anak dan singkat.
15. Kesenyapan
Kesenyapan merupakan cara jitu dalam
mendukung anak belajar dan berkonsentrasi. Dengan demikian komentar guru tidak
diperlukan karena akan mengganggu konsentrasi anak.
D.2.2 Strategi Pembelajaran Khusus
Dalam
implementasinya, strategi pembelajaran umum yang satu dapat dipadukan dengan
strategi yang lain untuk menciptakan strategi pembelajaran yang berbeda dalam
fungsi dan bentuknya. Memadukan beberapa strategi juga merupakan upaya agar
proses pembelajaran dapat lebih menarik dan menantang bagi anak sehingga tingkat perkembangan optimal dapat dicapai.
Mengacu
pada prinsip perlunya penggabungan strategi pembelajaran umum, Kostelnik (1999)
mengemukakan tujuh jenis strategi pembelajaran khusus yang relevan untuk
diaplikasikan pada anak-anak yang berusia 3-8 tahun.
1. Kegiatan
Eksploratori
Anak-anak banyak melakukan
eksplorasi terhadap lingkungannya, baik dengan benda, binatang, tanaman,
manusia, peristiwa ataupun kejadian dalam kesehariannya. Melalui kegiatan
eksploratori anak menemukan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan memilih
kegitan sesuai dengan minatnya. Dengan demikian anak membangun pengetahuannya
sendiri dengan cara aktif melakukan kegiatan (memegang peranan utama).
Kegiatan eksploratori merupakan
penggabungan dari strategi : meningkatkan keterlibatan indera anak dengan
mempersiapkan isyarat lingkungan yang dapat merangsang dan memungkinkan anak
terlibat secara bebas. Peran guru adalah memfasilitasi penyediaan bahan-bahan
dan peralatan bermain yang diperlukan.
2. Penemuan
Terbimbing
Sasaran yang ingin dicapai dalam
strategi penemuan terbimbing adalah agar anak dapat membuat hubungan dan
membangun konsep melalui interaksi dengan benda dan manusia. Titik berat dari
strategi ini adalah proses belajar anak dan bukan pada hasil akhirnya.
Kegiatan pada penemuan terbimbing
menggabungkan strategi modelling, penghargaan yang efektif, menceritakan/ menjelaskan/
menginformasikan, do it signal dan pertanyaan.
3. Pemecahan
Masalah
Melalui strategi pemecahan masalah
anak-anak merencanakan, meramalkan, mengamati hasil-hasil tindakannya dan
merumuskan simpulan. Dalam penerapanannya strategi ini dapat digunakan untuk
masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu alam dan juga untuk pemecahan
masalah sosial. Contohnya memilih nama untuk binatang kesayangan dalam sebuah
cerita.
4. Diskusi
Strategi pembelajaran yang
menunjukkan adanya interaksi timbal nalik atau berbalas-balasan antara guru
dengan anak.
Diskusi merupakan penggabungan dari
strategi undangan, refleksi, pertanyan dan pernyataan. Peran guru tidak dalam
hal membimbing percakapan anak-anak, tapi lebih kepada mendorong mereka
menemukan gagasannya sendiri dan mengkomunikasikan serta mengembangkan gagasan
tersebut secara lebih luas pada orang lain, yaitu teman-teman atau gurunya.
5. Belajar
Kooperatif
Cohen (1994) mendefinisikan strategi
pembelajaran belajar koperatif sebagai strategi yang melibatkan anak-anak untuk
bekerja sama dalam kelompok yang cukup kecil dan setiap anak dapat berpartisipasi
dalam tugas-tugas bersama.
Kegiatan-kegiatan yang dapat
dilakukan melalui strategi belajar kooperatif antara lain: membuat lukisan
kelompok, menari berpasangan, memasang puzzle berkelompok dan lain-lain.
6. Demostrasi
Strategi pembelajaran yang dapat
digunakan untuk menyajikan pengetahuan dan keterampilan dengan cara
memperlihatkan bagaimana proses terjadinya atau cara bekerjanya sesuatu disebut
demonstrasi.
Demonstrasi memadukan strategi umum
pembelajaran 'do it signal', modelling dan menceritakan/menjelaskan/menginformasikan.
Tiga langkah strategi pembelajaran menurut Kostelnik (1999), yaitu: (1) meminta
perhatian anak , (2) menunjukkan sesuatu
kepada anak, (c) meminta tanggapan atau respon.
7. Pengajaran
Langsung
Pengajaran langsung adalah strategi
pembelajaran yang digunakan untuk membantu anak-anak mengenal
istilah-istilah,strategi, informasi faktual dan kebiasaan-kebiasaan (Driscoll,
et. al 1996).
Merupakan gabungan dari modelling,
analisis tugas, penghargaan efektif, menginformasikan, do it signal dan
tantangan.
Dalam pengajaran langsung, guru
mempunyai peranan yang sangat besar dalam membuat keputusan-keputusan yang
tepat tentang: apa, bagaimana dan kapan anak-anak melaksanakan tugas-tugas
tertentu.
D.3
Kelebihan-kelebihan Strategi Pembelajaran umum dan Khusus
D.3.1 Strategi Pembelajaran Umum
Kelebihan-kelebihan strategi
pembelajaran umum adalah sebagai berikut:
1. Belajar
dapat dilakukan secara alamiah
mengandung keterlibatan indera yang sangat tinggi dan mengedepankan
prinsip pembelajaran langsung dan konkrit.
2. Simbol-simbol
non verbal seperti dalam strategi mempersiapkan isyarat lingkungan dapat
mendorong anak-anak untuk dapat mengembangkan kemandirian, kerjasama dan
belajar menerapkan disiplin.
3. Melalui
strategi modelling, akan diperoleh dampak yang sangat positif bagi anak-anak
dalam hal mempelajari perilaku-perilaku yang tepat.
4. Dapat
dimanfaatkan sebagai penguat dari kata-kata atau tindakan-tindakan anak melalui
strategi refleksi tingkah laku, refleksi kata-kata dan penghargaan efektif
serta memberikan dukungan terhadap anak-anak untuk belajar (kesenyapan).
5. Anak
dirangsang untuk menjadi pembelajar yang aktif dengan menerapkan strategi
tantangan dan praktek terbimbing.
6. Hasil
belajar yang sarat dengan tujuan menjadi kelebihan dari strategi analisis tugas
dan praktek terbimbing.
7. Anak
dapat membangun pengetahuannya sendiri dengan bantuan guru, atau orang dewasa
lainnya yang diperlukan oleh anak (Scaffolding)
D.3.2
Strategi Pembelajaran khusus
Kelebihan
Strategi Pembelajaran Khusus adalah sebagai berikut:
1. Anak-anak
memilki peran yang utama dalam kegiatan belajarnya,sedangkan guru bertindak
sebagai fasilitator yang menyediakan bahan-bahan dan peralatan bermain serta
informasi yang diperlukan oleh anak. Strategi yang dimaksud adalah kegiatan
eksploratori, penemuan terbimbing, diskusi, pemecahan masalah dan belajar
koorperatif.
2. Anak
belajar bertanggungjawab dari dirinya dan dari orang lain melalui belajar
kooperatif.
3. Meningkatkan
daya pikir anak dalam kemampuan mengenal, mengingat, berfikir konvergen atau
berfikir induktif dan berfikir evaluatif ( Moeslicahtun).
4. Keuntungan
menggunakan pembelajaran langsung adalah efisien dalam waktu dan guru dapat
mengetahui hasil belajar anak dengan segera.
D.4
Kelemahan-kelemahan Strategi Pembelajaran Umum dan Khusus
D.4.1 Kelemahan dari Strategi
Pembelajaran Umum
1. Beberapa
strategi lebih cocok digunakan secara spesifik pada kelompok bermain (KB),
seperti meningkatkan keterlibatan indera dan praktek terbimbing,
2. Peran
anak pasif terlihat pada strategi pembelajaran umum berikut: undangan/ ajakan,
do it signal, menceritakan/ menjelaskan/ menginformasikan.
3. Bantuan
yang diberikan oleh guru berlaku hanya pada saat anak mengalami kesulitan belajar, sesuai
dengan strategi : scaffolding , praktek terbimbing dan modelling.
D.4.2 Kelemahan Strategi Pembelajaran
Khusus
1. Dalam
kegiatan eksploratori, guru harus dapat membatasi penggunaan strategi 'do it
signal' atau pertanyaan yang membimbing anak berfikir sesuai dengan
arahan-arahan khusus dari guru agar dapat menemukan pengetahuannya sendiri
melalui eksploratorinya.
2. Strategi
pembelajaran yang sifatnya searah dari guru ke murid menjadi penyebab anak
pasif dan menjadi objek pembelajaran pada strategi demonstrasi dan pengajaran
langsung.
E. Simpulan
1. Pada
dasarnya Strategi Pembelajaran Umum dan Khusus yang dikemukakan oleh Kostelnik
(1999) untuk menjadi bahan pertimbangan bagi guru untuk memilik strategi
pembelajaran yang akan digunakan untuk memudahkan anak belajar.
F.SARAN
Dalam
implikasinya, penerapan strategi pembelajaran tidak dapat berdiri
sendiri-sendiri, melainkan akan membuat
proses belajar yang optimal jika dapat dipadukan untuk saling bersinergi
melengkapi satu sama lain. Diperlukan kejelian guru dalam memilih strategi dan
kegiatan yang tepat bagi kegiatan pembelajaran yang bermakna bagi anak usia
dini.
DAFTAR PUSTAKA
Masitoh,
dkk (2009). Strategi Pembelajaran TK: Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta
Saturday, December 12, 2015
Buku Berlatih Motorik Halus "Gunakan Jarimu"
A. Tujuan
Buku Berlatih Motorik Halus "Gunakan
Jarimu" dibuat untuk melatih keterampilan motorik halus anak usia 3-4
tahun. Buku ini terdiri dari 2 halaman berbahan kain felt yang berisi model
sebagai media pembelajaran yang bertujuan untuk:
1. Melatih anak usia dini agar dapat mengancingkan
baju pada model berbentuk kemeja di halaman buku yang pertama.
2. Memberi arahan dan praktek langsung membuat
simpul pada tali sepatu melalui model pembelajaran di halaman kedua.
B. Kajian Teori
Pendapat ahli mengenai definisi motorik halus terangkum dalam uraian
singkat dibawah ini:
·
Teori John W Santrock
Motorik halus meliputi
gerakan-gerakan yang menyesuaikan secara halus seperti ketangkasan jari.
·
Teori Hurlock
Motorik halus merupakan
gerakan yang berkaitan dengan otot-otot halus ayau sebgaian anggota tubuh
tertentu, yang dalam pengembangannya dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar
dan berlatih.
Contoh : kemampuan mencoret
akan semakin terarah dan memiliki bentuk bila sering dilatih, menyusun balok
akan menunjukkan bentuk bermakna dengan keluasaan kesempatan belajar dan
mengeksplorasi.
·
Teori Magil
Keterampilan motorik halus
sebagai sebuah gerakan yang memerlukan kontrol otot-otot ukuran kecil untuk
mencapai tujuan tertentu. Kontrol meliputi koordinasi mata-tangan ataupun
gerakan yang melibatkan tangan dan jari untuk pekerjaan dengan ketelitian
tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa
keterampilan motorik halus seperti menggunting, menempel, bermain puzzle,
membuat kolase, bermain dengan plastisin, mewarnai dan lain-lain, adalah
keterampilan membutuhkan ketangkasan jari, tingkat ketelitian yang tinggi serta
melibatkan koordinasi mata dan jari. Dalam pengembangannya diperlukan keluasaan
kesempatan untuk belajar dan berlatih agar dicapai kompetensi di aspek
pengembangan motorik halus.
Berlatih untuk mempraktekan
keterampilan motorik halus merupakan hal yang penting dalam mengembangkan
keterampilan anak menggunakan otot-otot halus melakukan gerkan-gerakan motorik
halus. Keterampilan tersebut dapat diperoleh dengan melalui beberapa tahapan
perkembangan motorik halus. Dave, menguraikan tahapan yang dilalui anak sebagai
berikut:
1. Tahap Imitasi
Adalah kemampuan melakukan
kegiatan sederhana sama persis seperti yang dilihat atau diperhatikan
sebelumnya. Pada tahap ini guru memberikan contoh terlebih dahulu, kemudian
anak akan meniru.
2. Tahap Manipulasi
Adalah kemampuan anak
melakukan kegiatan sederhana berdasarkan petunjuk yang diberikan guru. Pada
tahap ini, guru tidak lagi memberikan contoh pengerjaan, tetapi cukup dengan
memberi instruksi kepada anak usia dini, dan mereka akan dapat mengerjakan
berdasarkan petunjuk (instruksi) tersebut.
3. Tahap Presisi
Adalah kemampuan melakukan
kegiatan yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang tepat.
Sebagai contoh: anak dapat mengancingkan baju tepat dengan korelasi satu-satu.
4. Tahap Artikulasi
Adalah kemampuan melakukan
kegiatan lebih dari satu (kompleks) secara berurutan sehingga dapat membuahkan
hasil kerja yang merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Contoh: guru meminta anak
untuk menggambar dan mewarnai gambarnya sendiri sehingga hasil kerjanya
merupakan kesatuan gambar yang berwarna dan memiliki makna.
5. Tahap Naturalisasi
Adalah kemampuan melakukan
kegiatan secara refleks (dilakukan dengan sendirinya) tanpa adanya contoh
ataupun petunjuk yang diberikan oleh
guru. Contohnya anak akan segera dengan otomatis tanpa diminta mengikat tali sepatunya
apabila terlepas simpulnya.
Pengembangan keterampilan
seperti yang diuraikan di atas dan tahapannya akan dapat dilewati oleh anak
jika mendapat stimulasi yang cukup dari guru dan orang tua serta lingkungan
tempat anak tinggal. Variabel lain yang tidak kalah penting adalah memberikan
kesempatan pada anak untuk belajar dan berlatih. Belajar dapat pula diartikan
mengeksplorasi kemampuan motorik halusnya. Seringkali kemampuan motorik halus
terhambat karena tidak adanya ruang bagi anak untuk berekspresi. Sebagai contoh
saat anak mulai belajar memegang pensil atau krayon, orang tua sering kawatir
si anak akan menjadikan dinding sebagai media pembelajaran. Atau dalam hal
belajar menggunakan gunting, orang tua sering mengambil alih pekerjaan atas
dasar kekawatiran sang buah hati akan terluka karenanya. Padahal untuk menjadi
terampil dibutuhkan banyak latihan. Agar kedua pihak,- dalam hal ini orang tua
dan anak-, dapat sama-sama terpenuhi keinginannya maka perlu dilakukan mediasi
untuk menjembatani kebutuhan anak untuk belajar dan orang tua juga dapat
memastikan keamanan anak. Dalam kasus belajar menggunakan gunting misalnya,
perlu diberikan pemahaman pada anak sebelum memulai kegiatan dan orang tua/guru
melakukan supervisi berupa pengawasan selama kegiatan berlangsung. Sedangkan
dalam kasus mencoret tembok, anak dapat diajak berkomunikasi untuk negosiasi
agar mau berpindah dari media tembok ke media kertas untuk melatih coretannya
agar menjadi bentuk-bentuk bermakna. Pada dasarnya, baik guru maupun orang tua
tidak dianjurkan menghentikan aktifitas motorik halus atas dasar pertimbangan
orang dewasa pada umumnya, akan tetapi diperlukan dukungan guru dan orang tua
untuk lebih memahami anak dan
kebutuhannya untuk belajar dan bereksplorasi karena anak adalah penjelajah
ulung.
Pada media buku berlatih motorik
halus "Gunakan Jarimu", hal yang ingin dilatih secara khusus adalah
ketrampilan anak usia dini dalam mengancingkan baju dan membuat simpul pada
tali sepatu. Titik berat dari kegiatan ini adalah agar anak dapat mandiri dalam
mempersiapkan performanya.Sasaran adalah anak berusia 3-4 tahun, anak dalam
rentang usia ini telah mampu melepas dan memakai pakaiannya sendiri dengan
adanya latihan akan mempertajam ketelitian dan keterampilannya. Dalam
pengembangan motorik halus untuk ketrampilan mengancingkan baju dan mnegikat
tali sepatu akan lebih bermakna jika digunakan benda asli secara konkrit untuk
stimulasinya. Akan tetapi karena pertimbangan anak usia dini mempunyai daya
konsentrasi rendah maka latihan mengancingkan baju dilakukan dengan menggunakan
model baju yang hanya memiliki 2 anak kancing agar tingkat keberhasilannya
tinggi sehingga akan memotivasi anak untuk mengulanginya kembali. Sedangkan
model sepatu bertali digunakan untuk memastikan proses belajarnya memperhatikan
kebersihan.
C. Alat dan Bahan
C.1
Alat
1. Gunting
2. Jarum jahit
3. Jarum pentol
4. Pola huruf dan gambar untuk hiasan
5. Pensil
6. Penggaris
C.2
Bahan
1. Kain felt warna warni
2. Benang jahit
3. Lem uhu
4. tali sepatu
D. Prosedur Kerja
Prosedur
kerja dalam membuat buku berlatih motorik halus "Gunakan Jarimu"
adalah sebagai berikut:
1. Potong kain felt berbentuk persegi panjang dengan
ukuran 20 cm x 14 cm, sebanyak 6 buah.
2. Ambil satu lembar kain felt untuk halaman sampul
buku berlatih motorik halus.
3. Tempelkan potongan huruf membentuk judul buku;
"Gunakan Jarimu".
1. Tambahkan juga gambar 5 jari sebagai hiasan di
cover-nya.
2. Rapikan potongan huruf dan gambar dengan cara
menjahit bagian tepinya dengan tusukan feston. Setelah halaman ini selesai,
sisihkan terlebih dahulu.
3. Ambil satu lembar kain felt yang kedua untuk
membuat halaman buku dengan model kemeja yang dilengkapi dengan kancing dan
lubangnya.
1. Pada kain felt yang ketiga , akan dibuat model
sepatu bertali dengan cara menempelkan gambar berpola sepatu kemudian jahit
feston pada sekeliling tepinya agar rapi. Lubangi bagian sepatu yang akan
dipasang tali.
1. Lekatkan cover buku dengan kain felt polos dan
jahit menggunakan tusukan feston mengelilingi tepi halaman buku. Tandai halaman
ini sebagai lembar (a).
1. Jahit bagian kedua halaman buku yang memuat model
kemeja dengan kain felt polos sebagai lembar (b).
2. Halaman buku dengan model sepatu bertali
direkatkan dengan halaman belakang buku dan dijahit rapi tepiannya dengan
tusukan feston. Ini adalah lembar (c).
3. Satukan lembar (a), (b) dan (c) menjadi kesatuan
buku yang utuh dengan cara menjilidnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
